Kopi Mustahil

Aku tumbuh di keluarga yang tidak begitu akrab dengan kopi. Mereka sangat suka sekali dengan teh. Dua kali sehari 1 teko besar ukuran 1 liter selalu tersaji di dekat dispenser air putih. Teh itu tentu saja manis, bahkan mungkin terlalu manis. Kopi hanyalah selingan, dalam satu minggu dapat dihitung dengan jari jumlah bungkus kopi yang berkurang dari lemari penyimpanan. Kopi menjadi anak tiri dari menu harian hingga tahun 2007.

Aku dikenal sebagai anak pecinta susu dirumah. karena semua jenis susu telah cocok dilambung. Mulai dari susu UHT yang fullcream, yang ‘rasa-rasa’ hingga susu segar aman kukonsumsi. Hasil olahan pascanya pun aku masih suka salah satunya Yogurt.  Hanya satu yang tidak dapat kucerna, yakni susu basi. Haha! 😀

Processed with VSCO with f1 preset
Processed with VSCO with f1 preset

Kopi yang dulu kukenal hanyalah lewat Ayahanda tercinta, menikmati kopi terbaik hanya saat pulang ke Kudus, kampung halaman beliau. Setiap pagi ada aroma khas kopi pasar, citarasa mantap kopi pahit berbalut manis jagung dan susu. Jangan bayangkan kualitas dan grade kopinya, jelas bukan arabica dan bukan kualitas ekspor. Kopi seperti ini yang menemani perjuangan keras hidup Kakek, Nenek dan Ayahanda. Cara menikmatinya juga berkesan, kopi yang panas selalu dipasangkan dengan cawan kaca (baca:lepek). Kopi yang panas itu dituangkan kecawan untuk menurunkan panasnya dan meminumnya melalui cawan tersebut. Efek suara : “Srruuuupuuuttt….” lalu “Ahhh……”, berkesan tak pernah dapat dilupakan.

Walau dasarnya kopi pahit. Yakinlah, semua kopi pasti akan menemui penikmatnya.

Industri kopi jelas tumbuh semakin baik. Semua stakeholder semakin yakin dan sadar akan potensi kopi sehingga banyak yang berbenah, terutama kopi Indonesia. Petani dalam hal ini memegang proses kunci untuk membuat kopi yang berkualitas. Berdasarkan ilmu yang saya dapat dari orang-orang terdekat yang mendedikasikan hidupnya untuk kopi, wilayah pertanian yang meliputi kultivasi dan pasca panen adalah kunci utama dan memegang pengaruh besar hingga ±70% terhadap hasil akhir kopi. ±20% berikutnya adalah roasting dan sisanya ada pada proses penyeduhan. Kopi yang terawat adalah kopi yang baik.

Aku senang mengikuti media kabar online perfectdailygrind.com . Banyak hal riset yang telah dilakukan oleh pegiat industri kopi yang diulas di media tersebut. Umumnya mereka yang matang diluar telah melalui masa-masa sulit untuk membuat pertanian kopi yang sustainable (mampu bertahan untuk berkelanjutan). Petani kita sudah banyak yang memperhatikan dan mengikuti arus tersebut, Terlebih roastery-roastery besar mampu menjembatani pasar kopi dari petani. Semangat tumbuh dan berlomba untuk menghasilkan kopi yang lebih baik juga tumbuh. Katakan saja Tanamera dengan Toraja Sapannya serta Malabar Natural, Malabar Mountain dengan Malabar Honey Processnya,  Mother Pigeons dengan Kerinci Keniyanya dan masih banyak lagi.

Berlebihan


Menurutku industri kopi luar Indonesia dengan istilah specialty  menjadi hal yang terlalu berlebihan. Yang paling menonjol adalah Ninetyplus. Untuk pegiat kopi, nama ninetyplus sudah tidak asing lagi. Misi mereka adalah memproduksi dan menjual kopi dengan kualitas yang baiknya sulit dibayangkan dengan nalar. Dari hasil lelang tahun 2017, tercipta rekor baru dari kopi-kopi yang mereka lelang.

Screen Shot 2018-01-05 at 11.00.37

Aku sebagai pembaca awam hanya dapat membaca tabel tersebut pada Title, Bid, Weight, dan Tital Value. Pada baris kedua Limited Jose Alfredo dengan total berat 5kg dilelang dengan harga $5.001,50/Kg yang berarti dengan kurs IDR13.500 maka harga green bean per kilonya adalah IDR67.520.250. Saat roasting, bobot kopi akan menyusut hingga 20%. Katakanlah ketika matang tinggal 800gram. Dengan demikian IDR67.520.250/800gram = IDR84400/gram. Jika menyeduh 15gram kopi maka ongkos bahan untuk membuat satu porsi kopi adalah IDR1.266.000. Untuk meminum kopi, sungguh hal sangat, sangat, sangat yang berlebihan. Inilah kenyataan, bahwa kopi bisa semahal wine.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s